Penerbangan Murah Bikin Repot Petugas ATC

TEMPO.CO , Jakarta:- Presiden Indonesia Air Traffic Controllers Association, I Gusti Ketut Susila, mengatakan bahwa meledaknya jumlah penerbangan murah dinilai ikut berperan besar dalam minimnya petugas di menara pengawas penerbangan (air traffic controller/ATC). Kondisi ini hampir dialami semua bandar udara di Indonesia. Maskapai murah membuat frekuensi penerbangan semakin tinggi, sedangkan jumlah petugas ATC tidak bertambah secara signifikan.

»Ledakan maskapai berbiaya murah tidak diikuti perencanaan yang matang,” kata Susila saat dihubungi Tempo, Senin 21 Mei 2012 malam. Susila menjelaskan, kesalahan ini bertumpuk-tumpuk sejak beberapa tahun terakhir dan mencapai puncaknya ketika pesawat Sukhoi Superjet 100 jatuh di Gunung Salak pada 9 Mei lalu.

Seperti diberitakan, petugas ATC di Menara Timur Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, menyetujui permintaan pilot Sukhoi, Aleksandr Yablontsev, untuk menurunkan ketinggian dari 10 ribu kaki menjadi 6.000 kaki. Padahal, saat itu, tanpa diketahui hidung pesawat Sukhoi mengarah ke tebing gunung yang berjarak 14 kilometer. Sukhoi saat itu melaju dengan separuh kecepatan 537 kilometer per jam.(baca:Sukhoi Punya 9,4 Detik untuk Selamat)

Petugas ATC yang memandu Sukhoi saat itu juga sibuk memandu 13 pesawat lainnya. Asisten pemandu yang seharusnya membantu malah bertugas untuk Menara Barat. Begitupun penyelia pemandu lalu lintas, yang harus turun tangan memandu pesawat karena kekurangan personel.(baca:Centang-perenang Menara Pengawas Pesawat (ATC)) dan (baca:Kebablasan dan Salah Perintah di Udara)

Susila menyarankan adanya percepatan penambahan petugas ATC. Saat ini petugas yang ada berpendidikan diploma 3 dan diploma 4. Jika harus mengikuti ketentuan, butuh waktu lebih dari tiga tahun untuk mencetak petugas ATC. »Dipercepat tapi ada pelatihan intensif setelah itu,” ucapnya.

Dia juga mengusulkan, di masa mendatang, otoritas ATC seharusnya dipegang oleh satu lembaga. Sesuai dengan amanat Undang-Undang tentang Penerbangan, lembaga tunggal ATC seharusnya sudah terbentuk pada Januari 2012. Saat ini otoritas ATC masih dipegang oleh empat pihak, yaitu Angkasa Pura I, Angkasa Pura II, Batam, dan Papua.

Deputi Senior General Manager Air Traffic Control Cengkareng, Mulya Abdi, membantah soal kondisi petugas ATC yang dinilai tidak ideal. Menurut dia, petugas ATC Cengkareng masih sanggup melayani 1.800 penerbangan setiap hari, baik yang melintas maupun mendarat di Cengkareng. »Kami masih bisa melayani,” ujarnya.

Tapi, untuk mengurangi beban petugas, Mulya menyatakan pihaknya akan menambah jumlah petugas ATC tahun ini. Saat ini ATC Cengkareng sedang mendidik 120 petugas ATC. Pada September nanti, pihaknya akan menambah 100 petugas ATC. Penambahan petugas, kata dia, tidak bisa dilakukan seketika. »Perlu waktu sekitar satu setengah tahun,” ucapnya.

Sumber : http://id.berita.yahoo.com/penerbangan-murah-bikin-repot-petugas-atc-225207910--finance.html

No comments:

Post a Comment

Bijaklah dalam berkomentar di sosial media :)