Brotherhood - Aku Sayang Adik Kecilku

Hari ini, Minggu bertepatan dengan tanggal 20 Juli 2014. Nggak ada yang salah dengan hari ini. Ntah mengapa malam yang begitu melelahkan setelah bantuin Ibu buat kue lebaran. Ibu adalah orang yang paling sibuk dirumah kalau udah dekat Hari Raya Idul Fitri. Karena emang Ibu yang jadi Miss Perfectsionis dirumah. Sayangnya itu nggak nurun ke anak gadisnya yang hanya satu-satunya ini.

Kegiatan hari ini biasa saja. Paginya ngantor dan siangnya pulang kerumah untuk istirahat, rencananya sih gitu. Sampai dirumah sudah pukul 15.45 Wib. Aku mulai bersantai dikamar yang gelap. Hanya ada cahaya dari satu sumber, yaitu jendela. PLN belakangan ini sedang sensitif sama pemadaman listrik. Jadi beberapa hari ini akan ada pemadaman bergilir untuk beberapa tempat. Jam 4 sore nanti Aku udah janji mau bantuin Ibu buat kue untuk persiapan lebaran. Tapi hinggal pukul 16.10 Wib belum ada persiapan yang dilakukan Ibu.

"Ma, jadi buat kuenya?"
"Jadi, tapi mati lampu. Tunggu hidup lampu aja ya"
"Oo.. Iya ma"

Sambil beristirahat dikamar, Aku hanya mendengar teriakan dari bocah lima tahun yang lagi ketagihan masuk TK dan rela bangun jam 6 pagi buat persiapan TKnya. Padahal jam masuknya itu pukul 08.00 Wib. Jarak dari rumah ke TKnya pun nggak jauh, biasanya diantar menggunakan motor, dan hanya butuh waktu kurang dari 5 menit untuk menuju lokasi TKnya. Saking ketagihannya sekolah, hari minggu pun dia tetap ngigau minta diantarin sekolah. Namanya Habib, Adik kecil yang hanya satu-satunya. Jarak antara Aku dan Habib kurang lebih lima belas tahun. Dia yang sedari tadi teriak tak ku hiraukan, sedang bugil diluar kamar. Habib baru siap mandi. Semenjak masuk sekolah habib jadi lebih mandiri, hingga tidak mau dimandikan lagi.

"Kakak!!!" serunya dengan khas suara bocah lima tahun.
"Kakaaaaaaaaaaaaaaaak!!" dengan suara yang lebih keras.
"Kaaaaaaaaaaakaaaaaaaaaaaaaa!" kembali suara itu terdengar menggelegar didepan pintu kamar.
"Kak kak kak kakkkkkkkkkkkkkkkkkkkk!!!" teriakannya semakin besar.

Lama-lama Aku tak tega melihat teriakannya. Aku hanya lelah pulang dari kantor hingga tak menghiraukan teriaknnya itu. Lalu aku putuskan membuka pintu dan menanyakan apa maunya.

"Ngapa Bib?"
"Ngapa kakak dikamar? Abib belum pakai baju. Ibu beli mentega buat kuat kue"
"Kakak bobok, ambil lah bajunya dilemari, kakak ambil minyak kayu putih sama bedak dulu"

Habib sudah terbiasa memilih bajunya sendiri, karena cuma dia yang tahu selera dan moodnya lagi mau pakai baju apa. Kadang baju yang bagus pun diambilkan untuknya, Habib masih bersikeras nggak mau pakai dan memilih mengambilnya sendiri.

Setelah Habib mengambil bajunya, dia langsung keluar dari kamar dan menghampiri Aku yang sudah siap dengan bedak khas bayi dan minyak kayu putih. Habib memilih baju kemeja kotak-kotak berwarna merah hari ini. Lalu Aku  mengusapkan minyak kayu putih kebadannya dan tidak lupa dengan bedaknya juga. Habib hanya tertawa kegelian, seperti biasa.

Setelah selesai dari persolekannya, Habib bersiap untuk keluar rumah buat tepe-tepe alias tebar pesona kepada anak perempuan seusianya. Habib bisa dibilang ganteng, buktinya kalau Habib ikut Aku ke mesjid, dia pasti di grepe-grepein sama anak perempuan yang ada didekatnya. Mau itu yang udah dewasa maupun masih kecil. Saat si Habib lagi fokus shalat, ada saja perempuan yang mengganggunya, ntah mengambil pecinya dan melemparnya jauh-jauh agar habib mengejarnya. Habib sempat terpancing untuk berlarian didalam mesjid. Tapi sebelum hal itu terjadi, dia sadar kalau bakalan ada wanita yang marah padanya. Siapa lagi kalau bukan kakaknya. 

Tapi yang namanya anak-anak tetap nggak bisa lepas dari yang namanya bermain. Akhirnya Habib terpancing ajakan teman baiknya yang tidak lain tidak bukan anaknya Pak RT yang jadi sahabatnya dirumah. Kalau nggak dipinjemin mobil bakalan ada kata "Nanti kita nggak kawan ya, Yud!" Habib selalu menggunakan kata-kata ampuh ini. 

Habib terkenal dirumah, bahkan lebih terkenal dari pada Aku. Jadi kalau Aku lewat ditempat yang jarang Aku lewati dan ketemu dengan orang yang jarang Aku temui pasti berkata "Eh, kakaknya Habib. Baru pulang kuliah ya?" Ya, itu mungkin karena Aku jarang dirumah. Dikalangan teman-temannya pun dia seperti dihormati gitu, sampai-sampai di jemput kalau mau main. Kadang Habib lagi nggak mood tapi tetap dipaksa buat keluar rumah dan main bersama anak-anak lainnya.

Ketika sudah sore, dia sadar sendiri untuk pulang tanpa dijemput. Meskipun kadang jiwa nakal khas bocahnya muncul. Tapi Ibu tetap maklum dan sabar. Kadang kalau lagi kumatnya, kalau udah sore diminta pulang untuk mandi susah banget. Malah keliling komplek dan gang sampai Ibu lelah ngejarnya.

Malam pun tiba, saatnya Habib tidur. Semenjak Habib mulai sibuk dengan aktifitas barunya sebagai anak didik di Taman Kanak-kanak dia sadar mesti tidur jam berapa. Jam 20.30 atau paling lambat 21.00 Wib dia udah tidur. Paling bilang "Nanti kakak tidur sama Abib ya, kalau Abib udah tidur kakak pindah aja kekamar kakak".

Keesokan harinya, dengan aktifitas barunya ini. Habib menggemparkan seisi rumah dengan celotehan khas bocahnya. "Cepatlah bu, Cepatlah Kak! nanti Abib terlambat. Nanti kawan-kawan udah baris Abib belum". Padahal saat dia berkata seperti itu waktu masih pukul 6.45 Wib. Kadang, kalau Aku belum siap mentoknya minta antar sama Ayahnya.

Disekolahnya, Aku sempat nungguin dia sebentar karena masih sepi. hanya ada tiga orang anak perempuan dengan Ibunya dan dua orang anak laki-laki yang masih bocah juga tentunya. Habib langsung menuju arena permainan dilingkungan TKnya. Main putar-putar yang ada setirnya ditengah itu. Lagi asyik main sendiri, Aku perhatikan ada tiga orang anak perempuan menghampirinya dan membuat Habib terjepit ditengah-tengah mereka. Aku perhatikan, Habib beranjak sedikit demi sedikit menjauh dari mereka, mungkin Habib merasa risih atau malau ntah bagaimana. Kalau Aku lihat dia dalam keadaan seperti itu, dia hanya senyum malu dan langsung melarikan diri mencari teman lelakinya.

Disekolahnya pun Habib juga disukai oleh teman-temannya. Hingga didalam kelas dia dikelilingi dengan teman-teman baru di tempat dia duduk. Kadang Aku sempatin nanya "gimana sekolahnya bib?: ada kawan Abib?". Dia menjawab dengan polos dan penuh kejujuran khas bocah sekali. Dia menyebutkan nama teman-temannya satu-satu yang mulai mengakrabkan diri dengannya. Dia juga curhat "Kak tadi Ilham nangis pas Ibunya pulang, Habib nggak ada nangis". Iya, Aku akui, diantara teman-temannya yang masih ditemani sama orang tua mereka, Habib memang nggak ditemani sama Ibu ataupun Ayah. Ayah paling jemput Habib 30 menit sebelum jam pulang tiba. Hal ini membuatnya terbiasa mandiri. Aku salut!.

Habib bukanlah tipe anak yang cengeng, yang sedikit-sedikit merengek karena ini itu. Contohnya pada saat tangannya luka dan mengeluarkan darah yang banyak hingga mengotori baju putihnya akibat terkena pisau. Dia hanya diam berdiri diluar sambil lap darahnya sampai kering dengan bajunya. Habib nggak nangis, sama sekali nggak. Kalau Aku tanya kenapa, paling dia jawab "kena pisau tadi, abib main masak-masak". Udah gitu aja.

Tapi, meskipun begitu, Habib nangis kalau dibentak. Aku pernah ngebentak Habib karena saat itu emang dia lagi ngeselin banget. Akibat bentakan itu dia nangis tersedu-sedu hingga menimbulkan rasa iba. Lalu Aku mendekatinya dan menggendongnya sambil membujuknya agar berhenti menangis. Lalu akhirnya dia diam dan tertawa lagi. 

Habib maniak jalan-jalan. Sedekat apapun yang penting itu naik motor atau mobil atau Bus sekalipun dia nggak peduli. Bahkan dia pernah jalan kaki sejauh kurang lebih 2Km atau 3Km tanpa rasa letih dan tanpa ada minta gendong. Hanya senyum pepsoden yang muncul di raut wajahnya yang mungil. 

Kalau lagi belajar, dia agak susah memang kalau diajarin. Habib lebih suka belajar langsung dilapangan, mungkin istilahnya begitu. Habib cepat bosan kalau diajarin dirumah. Dia lebih suka belajar tanpa disuruh. Kalau disuruh menghitung dia bakalan ngitung 1,2,3,5,4,6 dan angka-angka yang nggak berurutan. Tapi kalau lagi nggak disuruh, nanti dia bisa ngitung angka dengan jelas dan berurutan.

Gurunya ada cerita sama Ibu, kalau Habib di sekolah paling semangat kalau udah waktunya ngaji. Minta jadi yang pertama baca. Ibu hanya tersenyum lega, begitupun Ayah dan Aku tentunya. Bangganya punya Adik yang super seperti Habib.

Habib mengerti saat Aku lagi krisis akhir bulan dan saat Aku lelah pulang kerja atau pulang ngampus. Kalau Aku pulang cepat dia bakalan nanya "Kakak nggak kuliah" atau "Kakak nggak ngantor? kok udah pulang". Habib itu ngangenin dan menggemaskan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya itu bijak sekali, kadang kalau ada yang bicara sama dia, habib cuma bilang "Jangan bohong-bohong nanti dosa masuk neraka" hal ini dia dapat dari Ibu yang sering ngomong gitu ke dia. 

Adalagi ketika ada sepupu yang makan dirumah, misalnya sepupu dekat rumah numpang makan dirumah, saat itu semua piring dan gelas udah pada dicuci dan nggak ada lagi piring kotor. Jadi si sepupu ini habis makan dan nggak cuci piringnya, Habib bilang "Cucilah piring tu, Ibu Abib capek nyuci". Aku yakin Ibu ataupun Ayah nggak pernag ngajarin itu. Habib sendiri, kalau udah siap makan kadang nyuci piringnya sendiri. Bahkan kalau pagi ada piring kotor di pencucian piring, dia malah nyuciin itu semua seekdangkan Aku masak. Habis masak udah lihat piring pada bersih. Awesome kan :)

Habib adik yang penurut, kadang diminta kewarung beli ini beli itu dia mau aja. Kadang sempat dia melakukan penyimpangan, diminta beli apa, dianya malah beli apa. Kadang belum nyampe warung dia udah belok arah karena dipanggil sama temannya untuk main.

Jarak Aku memang jauh banget sama Habib, tapi itu nggak mengurangi perhatian dia sama Aku. Kalau Aku sakit dia pasti cemas dan nanyain terus ke Ibu "Kakak ngapa Bu? Kakak capek? Sakit kakak Bu?" dan semua kara-kata unyu dan menggemaskan dari anak kecil yang polos ini membuat Aku bersyukur punya Adik meskipun telat gini.

Habib adik sedarah satu-satunya yang Aku punya. Yang bakal belain Aku kalau Aku dalam masalah kemudian hari. Jadi sayangilah habib jangan kalian sering bertengkar. Ibu selalu berkata seperti ini.

Aku, adalah orang yang susah bilang Sayang secara langsung sama siapapun. Bilang sayang sama Ibu, sama Ayah atau siapapun, teman sekalipun. Itu susah, ntah mengapa. Palingan dari setiap postingan yang Aku buat baru Aku bisa mengungkapkan rasa itu. Postingan ini ada karena Aku sayang Adikku :)







4 comments:

  1. hehehe keren sih postingannya , tapi "habib" kamu ketrununan Muhammad yah , aku juga sayang adik mu :D jiahahahha

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahahahah.,.. :D
      keturunan muhammad? Maksudnya keturunan Nabi Muhammad ?

      Delete
  2. Bagus postingannya.. Mirip sekali seperti anak saya yang mulai masuk TK A...
    Salam kenal mba.. Tapi lain kali pake fotonya juga dong, biar gak penasaran,..

    ReplyDelete
    Replies
    1. haaa?? -_- ini ambiguu.. apakah tulisan vina yang seperti anak baru masuk TK atau adik vina yang baru masuk tk mirip anaknya ya :3
      mhueheheheh

      hahahaha, rencana nya gitu. tapi takut dia dibully duluan punya kakak rempong seperti saya :D

      Delete

Bijaklah dalam berkomentar di sosial media :)